BY: Lili windari
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme
tubuh baik berupa urin atau bowel (feses). Defekasi(eleminasi fecal) adalah
pengeluaran feses dari anus dan rektum. Hal ini juga disebut bowel movement.
Frekuensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali
perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap
orang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan
rektum, saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar
terhadap kebutuhan untuk defekasi.
Eliminasi yang
teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh yang normal.
Perubahan pada eliminasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan
bagian tubuh yang lain. Karena fungsi usus tergantung pada keseimbangan
beberapa faktor, pola eliminasi dan kebiasaan masing-masing orang berbeda. Klien
sering meminta pertolongan dari perawat untuk memelihara kebiasaan eliminasi
yang normal. Keadaan sakit dapat menghindari mereka sesuai dengan program yang
teratur.
Salah satu gangguan eleminasi fecal adalah Obstipasi
dan konstipasi, sehingga sebagai bidan harus mengetahui apa itu obstipasi dan
konstipasi, juga bagaimana mengatasinya.
B.
Tujuan
1. Agar
mengetahui dan memahami tentang obstipasi
2. Agar
mengetahui dan memahami tentang konstipasi
BAB
II
TEORI
A.
OBSTIPASI
1.
Definisi
Obstipasi berasal dari bahasa
Latin Ob berarti in the way = perjalanan dan Stipare yang berarti to compress = menekan .Secara
istilah obstipasi adalah bentuk konstipasi parah dimana biasanya disebabkan
oleh terhalangnya pergerakan feses dalam usus (adanya obstruksi usus).
Secara umum, Obstipasi
adalah pengeluaran mekonium tidak terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran
atau kesulitan atau keterlambatan pada faeces yang menyangkut konsistensi
faeces dan frekuensi berhajat. Sedangkan pada neonatus lanjut didefinisikan
sebagai tidak adanya pengeluaran feses selama 3 hari/lebih.
2.
Jenis-jenis
obstipasi
Obstipasi ada 2 macam :
a.
Obstipasi
Total
Memiliki ciri khas tidak keluarnya feses atau
atau flatus dan pada pemeriksaan colok dubur didapat rectum yang kosong,
kecuali jika obstruksi terdapat pada rectum.
b.
Obstipasi
Parsial
Memiliki ciri pasien tidak dapat buang air besar
selama beberapa hari, tetapi kemudian dapat mengeluarkan feses disertai gas.
Keadaan obstruksi parsial kurang darurat daripada obstruksi total.
3.
Etiologi
a.
Kebiasaan makan
Obstipasi dapat timbul
bila tinja terlalu kecil untuk membangkitkan buang air besar. Keadaan ini
terjadi akibat kelaparan, dehidrasi, makanan kurang mengandung selulosa.
b.
Obstipasi
akibat obstruksi dari intralumen usus meliputi akibat adanya kanker dalam
dinding usus.
a.
Obstipasi
akibat obstruksi dari ekstralumen usus, biasanya akibat penekanan usus oleh
massa intraabdomen misalnya adanya tumor dalam abdomen yang menekan rectum.
b.
penyaluran
makanan yang kurang baik, misalnya masukan makanan bayi muda kurang mengandung
air / gula, sedangkan pada bayi usia lebih tua biasanya karena makanan yang
kurang mengandung polisakarida atau serat.
c.
Kemungkinan
adanya gangguan pada usus seperti pada penyakit Hirschpung yang berarti usus
tidak melakukan gerakan peristaltik.
1.
Tanda dan gejala
Pada neonatus
jika tidak mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama, pada bayi jika tidak
mengeluarkan feses selama 3 hari atau lebih.
a.
Sakit dan
kejang pada perut.
b.
Bayi sering
menangis.
c.
Susah tidur
dan gelisah
d.
Kadang-kadang
muntah.
e.
Abdomen
distensi (kembung, karena usus tidak berkontraksi).
f.
Bayi
susah/tidak mau menyusui.
g.
Bising usus
yang janggal.
h.
merasa tidak enak
badan, anoreksia dan sakit kepala
i.
feses besar dan
tidak dapat digerakan dalam rektum
j.
terdapat luka pada
anus
2.
Patofisiologi
dan patogenesis
Pada keadan normal
sebagian besar rektum dalam keadaan kosong, kecuali bila ada refleks masa dari
kolon yang mendorong feses ke dalam rektum yang terjadi sekali atau dua kali
sehari. Hal tersebut memberikan stimulasi pada arkus aferen dari refleks
defekasi. Dengan adanya stimulasi pada arkus aferen tersebut akan menyebabkan
kontraksi otot dinding abdomen sehingga terjadilah defekasi.
Mekanisme usus yang normal terdiri atas 3
faktor, yaitu sebagai berikut :
a. Asupan
cairan yang adekuat.
b. Kegiatan
fisik dan mental.
c. Jumlah
asupan makanan berserat.
Dalam keadaan normal,
ketika bahan makanan yang akan dicerna memasuki kolon, air dan eletrolit
diabsorbsi melewati membran penyerapan. Penyerapan tersebut berakibat pada
perubahan bentuk feses, dari bentuk cair menjadi bahan yang lunak dan
berbentuk. Ketika feses melewati rektum, feses menekan dinding rektum dan
merangsang defekasi.
Apabila bayi tidak
mengkonsumsi ASI (cairan) secara adekuat, produksi dari pencernaan lebih kering
dan padat, serta tidak dapat dengan segera digerakkan oleh gerakan peristaltik
menuju rektum, sehingga penyerapan terjadi terus-meneerus dab feses menjadi
semakin kering, padat dan susah dikeluarkan, serta menimbulkan rasa sakit. Ini
yang menyebabkab bayi tidak bisa BAB dan akan menyebabkan kemungkinan
berkembangnya luka. Proses dapat terjadi bila menurun peristaltik usus dsb. Hal
tersebut menyebabkan sisa metabolisme berjalan lambat yang kemungkinan akan
terjadi penyerapan air yang berlebihan.
Bahan makanan berserat
sangat dibutuhkan untuk merangsang peristaltik usus dan pergerakan normal dari
metabolisme dalam saluran cerna menuju ke saluran yang lebih besar. Sumbatan
pada usus dapat juga menyebabkab obstipasi.
3.
Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada penderita obstipasi
adalah sebagai berikut :
a.
Perdarahan
b.
Ulserasi
c.
Obstruksi
parsial
d.
Diare
intermiten
e.
Distensi
kolon akan menghilang jika ada sensasi regangan rektum yang mengawali proses
defekasi.
3.
Menegakan
Diagnosa Obstipasi
Obstipasi didiagnosa melalui cara:
a.
Anamnesis
Riwayat penyakit difokuskan pada gagal untuk mengeluarkan baik feses maupun gas. Perlu untuk menentukan apakah termasuk obstruksi total atau partial Anamnesis ditujukan untuk menggali lebih dalam riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat menstimulasi terjadinya obstipasi.
Riwayat penyakit difokuskan pada gagal untuk mengeluarkan baik feses maupun gas. Perlu untuk menentukan apakah termasuk obstruksi total atau partial Anamnesis ditujukan untuk menggali lebih dalam riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat menstimulasi terjadinya obstipasi.
Dicari juga
apakah ada kelainan usus sebelumnya, nyeri pada perut, dan masalah sistemik
lain yang penting, sebagai contoh riwayat adanya penurunan berat badan yang
kronis dan feses yang bercampur darah kemungkinan akibat obstruksi neoplasma
b.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan
abdomen standar seperti inspeksi, auskultasi, perkusi,dan palpasi untuk melihat
apakah ada massa abdomen, nyeri abdomen, dan adanya distensi kolon.Obstruksi
usus pada fase lanjut tidak terdengar bising usus Pemeriksaan region femoral
dan inguinal untuk melihat apakah ada hernia atau tidak. Obstruksi kolon bisa
terjadi akibat hernia inguinal kolon sigmoid
Pemeriksaan rectal tussae (colok dubur) untuk mengidentifikasi kelainan rectum yang mungkin menyebabkan obstruksi dan memberikan gambaran tentang isi rectum.
Pemeriksaan rectal tussae (colok dubur) untuk mengidentifikasi kelainan rectum yang mungkin menyebabkan obstruksi dan memberikan gambaran tentang isi rectum.
c.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan
penunjang yang perlu dilakukan pada bayi yang menderita obstipasi adalah :
1)
Pemeriksaan Hb
2)
Pemeriksaan Urine
3)
Pemeriksaan penunjang lain yang dianggap
perlu.
d.
Pencitraan dengan CT scan, USG, X
rays dengan atau tanpa bahan kontras.
Pencitraan untuk melihat apakah ada dilatasi kolon. Dilatasi kolon tanpa udara menandakan obstruksi total dan dilatasi kolon dengan terdapat udara menandakan partial obstruksi parsial. Pencitraan ini dapat digunakan untuk menentukan letak obstruksi dan penyebab obstruksi.
Pencitraan untuk melihat apakah ada dilatasi kolon. Dilatasi kolon tanpa udara menandakan obstruksi total dan dilatasi kolon dengan terdapat udara menandakan partial obstruksi parsial. Pencitraan ini dapat digunakan untuk menentukan letak obstruksi dan penyebab obstruksi.
e.
Laboratorium seperti pemeriksaan
elektrolit darah (mengetahui dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit),
hematokrit (apakah ada anemia yang dihubungkan dengan perdarahan usus missal
akibat neoplasma), hitung leukosit (mengetahui infeksi usus). Endoskopi untuk
melihat bagian dalam kolon dan mennetukan sebab obstipasi
2.
Penatalaksanaan
Obstipasi
a.
Penatalaksanan
yang dilakukan adalah
1)
Mencari
penyebab obstipasi
2)
Menegakkan
kembali kebiasaan defekasi yang normal dengan memperhatikan gizi, tambahan
cairan, dan psikis.
3)
Pengosongan
rektum jika tidak ada kemajuan setelah dianjurkan untuk menegakkan kembali
kebiasaan defekasi. Pengosonganrektum bisa dilakukan dengan disimpaksi digital,
enema minyak zaitun, obat-obatan
4)
Usahakan diet pada ibu dan bayi yang
cukup mengandung makanan yang banyak serat, buah-buahan dan sayur-sayuran.
5)
Diet pada obstruksi total dianjurkan
tidak makan apa-apa.
6)
Pada obstruksi parsial, dapat diberikan
makanan cair dan obat-obat oral.
7)
Pemberian laktasi hanya merupakan
tindakan pariatif yaitu hanya bila diperlukan saja.
8)
Peningkatan intake cairan
9)
Bila diduga terdapat penyakit
hirscprung dapat dilakukan tes tekanan usus.
10)
Bayi kurang dari dua bulan yang
menerima susu formula atau ASI yang memadai bisa diberi 1 sendok teh sirup
jagung ringan pada botol pagi dan malam hari
1)
Apel atau jus prem efektif bagi bayi
antara 2 bulan dan 4 bulan
2)
Bayi antara 4 bulan dan 1 tahun
dapat sembuh dengan sereal serat tinggi atau jus aprikot,buah prem kering atau
prem.
3)
Anak usia lebih dari 1 tahun
sebaiknya diberi makan serat tinggi seperti buah-buahan,kacang
polong,sereal,keripik graham,buncis dan bayam.
a.
Perawatan medis
Resusitasi untuk mengoreksi cairan
dan elektrolit tubuh, nasograstis decompression pada obstruksi parah untuk
mencegah muntah dan aspirasi, dan pengobatan lain untuk mencegah semakin
parahnya sakit.
b.
Operasi
Untuk mengatasi obstruksi sesuai
dengan penyebab obstruksi dan untuk mencegah perforasi usus akibat tekanan
tinggi. Obstipasi obstruksi total bersifat sangat urgen untuk dilakukan
tindakan segera dimana jika terlambat dilakukan dapat mengakibatkan perforasi
usu, karena terdapat peningkanan tekanan feses yang besar.
A.
KONSTIPASI
1.
Definisi
Konstipasi
adalah kondisi dimana feses memiliki konsistensi keras dan sulit dikeluarkan.
Masalah ini umum ditemui pada anak-anak. Buang air besar mungkin disertai rasa sakit dan menjadi lebih jarang dari biasa. Pada anak
normal, konsistensi feses dan frekuensi BAB dapat berbeda-beda. Bayi yang
disusui ASI mungkin men galami BAB setiap selesai disusui atau hanya sekali dalam 7-10 hari. Bayi
yang disusui formula dan anak yang lebih besar mungkin mengalami BAB
setiap 2-3 hari.
Frekuensi
BAB yang lebih jarang atau konsistensi
feses yang sedikit lebih padat dari biasa tidak selalu harus ditangani sebagai
konstipasi. Penanganan konstipasi hanya diperlukan jika pola BAB atau
konsistensi feses me nyebabkan masalah
pada anak. Umumnya dengan nutrisi yang baik, perbaikan kebiasaan BAB, dan
pengunaan obat yang sesuai jika diperlukan, masalah ini dapat ditangani.
Gejala
antara obstipasi dan konstipasi sangat mirip, dimana terdapat kesukaran
mengeluarkan faeces (defekasi). Namun obstipasi di bedakan dari konstipasi
berdasarkan penyebabnya ialah dimana konstipasi disebabkan selain dari
obstruksi intestinal sedangkan obstipasi karena adanya obstruksi intestinal.
2.
Gejala dan tanda
Konstipasi dapat menyebabkan gejala
berikut :
a.
Sakit perut, BAB
mungkin disertai rasa sakit
b.
Turun atau hilangnya
napsu makan
c.
Rewel
d.
Mual atau muntah
e.
Turunya berat badan
f.
Noda feses dicelana
dalam anak
g.
Mengedan untuk
mengeluarkan feses yang keras dapat menyebabkan robekan kecil
pada lapisan mukosa anus (anal fissure) dan perdarahan
h.
Konstipasi meningkatkan
risiko infeksi saluran kemih
3.
Penyebab Obstipasi/konstipasi
a.
Kecenderun gan alami
gerakan usus yang lebih lambat
b.
Nutrisi yang buruk
c.
Beberapa obat dapat
menyebabkan konstipasi
d.
Kebiasaan BAB yang
tidak baik
e.
Kurangnya asupan cairan
f.
Kurangnya aktivitas
fisik
g.
Adanya kondisi anus yan
g menyebabkan nyeri
h.
Tiolet training yang dipaksakan
i.
Kadang konstipasi dapat terjadi karena penganiayaan
seksual (sexual abuse)
4.
Penanganan
Pada
bayi di bawah usia satu tahun,
kemungkinan masalah organik yang mungkin menyebabkan konstipasi harus diteliti
dengan lebih cermat, terutama apabila
konstipasi disertai gejala lain seprti : Keluarnya feses pertama lebih dari 48
jam setelah lahir, kaliber feses yang kecil, gagal tumbuh, demam, diare yang
disertai darah, muntah kehijauan, atau terabanya benjolan diperut. Perlu
dilakukan rujukan, karena kemungkinan
bayi mengalami megacolon konginetal,
perut yang kembung, karena lemahnya otot atau refleks kaki, adanya lesung atau
rambut di punggung bagian bawah, diare, pneumonia berulang ; selalu tampak lelah, tidak
tahan cuaca dingin, denyut nadi yang lambat banyak BAK, banyak minum ; anus
yan g tidak tampak normal baik bentuk
maupun posisinya, lebih dari 95%
konstipasi pada anak di atas satu tahun
adalah konstipasi fungsional (tidak ada
kelainan organik yang mendasarinya)
Penanganan pada kasus diare, kebiasaan BAB yang
baik: anak yang mengalami konstipasi
harus dilatih untuk membangun kebiasaan BAB yang baik, salah satu caranya
adalah dengan membiasakan duduk di
toilet secara teratur sekitar lima menit stelah sarapan, bahkan jika anak tidak merasa
ingin BAB, anak harus duduk selama lima menit, bahkan jika anak
telah menyelesaikan BAB sebelum lima
menit tersebut habis.
Anak
juga harus belajar untuk tidak menahan
keinginan menggunakan toilet di sekolah. Jika orang tua mencuriga adanya masalah tersebut, orang tua
hendaknya membicarakan masalah tersebut dengan anak maupun pihak sekolah
Makanan tinggi serat :
serat membuat BAB lebih lunak karena menahan lebih banyak air dan lebih mudah
untuk dikeluarkan. Memperbanyak jumlah
serat dalam makanan anak dapat mencegah konstipasi.
Beberapa cara untuk
memenuhi ke butuhan serat anak adalah :
a. Berikan minimal 2 sajian buah
setiap hari. Buah yang dimakan
beserta kulitya, misalnya plum, aprikot, dan peach, memiliki banyak kendungan
serat.
b. Berikan minimal 3
sajian sayuran setiap hari
c.
Berikan sereal yang
tinggi serat seperti bran, wheat. Whole
grain, dan oatmeal. Hindari sereal
seperti corn flakes.
d.
Berikan roti ga ndum
(wheat) sebagai ganti roti putih
e.
Banyak minum dapat
mencegah ko nstipasi. Biasakan anak
untuk minum setiap kali makan, sekali di anatar waktu makan, dan sebelum tidur.
Namun perlu diperhatikan bahwa terlalu banyak susu sapi atau produk susu lainya (keju, yogurt) justru dapat me ngakibatkan konstipasi pada
sebagian anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar